Enhancing Quality Education Through Quality Evaluation

User login

Pesan Ketua

HEPI merupakan sebuah organisasi profesi yang bergerak di bidang pen­di­dik­an yang memiliki azas profesionalisme dan keilmuan dalam bidang pengukuran dan evaluasi pendidikan. Organisasi ini bersifat independen yang anggo­tanya terdiri dari him­pun­an para ahli, praktisi, pengamat, dan peminat evaluasi pendidikan.

Selengkapnya

    TOTOK SUPRAYITNO: TANTANGAN SEMAKIN BERAT, PERAN DAN KONTRIBUSI HEPI PERLU DIPERKUAT

    Tantangan yang dihadapi pemerintah dalam meningkatkan kompetensi guru dalam melakukan asesmen semakin berat. Akses pendidikan yang selama ini diperluas belum diikuti dengan peningkatan kualitas prestasi peserta didik. Peran dan kontribusi asosiasi profesi, terutama HEPI perlu diperkuat dan sangat diperlukan untuk mencari solusi terhadap permasalahan pendidikan nasional.

    Demikian pesan penting yang disampaikan Totok Suprayitno Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ketika menyampaikan keynote speech dalam acara Kongres dan Konferensi Ilmiah HEPI di Banjarmasin, Jumat-Ahad (28-38/7/2017). Dalam paparannya, Kepala Balitbang menyampaikan beberapa kebijakan terkini yang terkait dengan Kurikulum 2013, kompetensi guru, dan full day school serta peran HEPI.

    Menurut Totok, tema konferensi HEPI tahun ini "Penguatan literasi guru dalam asesmen kelas" sangat tepat sekali dengan apa yng sekarang dilaksanakan Kementerian. Sebab kebijakan perluasan pendidikan melalui wajib belajar 9 tahun belum menggambarkan seberapa besar peserta didik belajar dan kompeten.

    "Target REPELITA dan RPJM hanya target angka, bukan target berapa tinggi kompetensi peserta didik", ucap Totok seraya menambahkan kondisi seperti ini yang selama ini lepas dari perhatian kita.

    Sekarang, tambah Kepala Balitbang, kita dikejar wajib belajar 12 tahun. Tuntutannya bukan seberapa banyak siswa yang belajar, tetapi seberapa kompeten mereka. Untuk mengukur kompetensi mereka, peran dan kontribusi HEPI sangat diperlukan.

    Menurut Kepala Balitbang, perluasan akses pendidikan yang tidak diikuti dengan mutu tidak akan berarti. "Jangan menggampangkan ekspansi tanpa memperhatikan mutu. Ekspansi tanpa mutu tidak memiliki arti", pesannya seraya menegaskan ukuran atas mutu sangat diperlukan dan peran organisasi profesi semacam HEPI sangat menentukan.

    1. Kurikulum 2013

    Dalam penjelasannya, Kepala Balitbang juga menyampaikan kebijakan pemerintah terkait dengan Kurikulum 2013 (K-13). Menurutnya, cita cita dan desain K-13 bagus. Referensinya mengacu kepada pembelajaran abad 21 yang ditandai dengan 4 C, yaitu critical thinking, creativity, collaboration, dan communication. Namun, sangat disayangkan implementasinya tergesa-gesa, sehingga muncul berbagai kendala.

    Kurikulum ini, tambah Kabalitbang, berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Salah satunya dari segi High Order Thinking Skills (HOTS) pada proses kognitif yang biasa disebut dengan C4, C5, dan C6. Namun kemampuan guru dalam membuat soal masih sampai C3, yaitu kemampuan memahami, mengingat, dan menerapkan rumus.

    "Soal yang dibuat guru tidak mendorong terwujudnya berpikir kritis. Paling tinggi hanya pada penerapan rumus. Jika tidak ada rumus, peserta didik tidak bisa melakukan apa-apa", ucap mantan Atase Pendidikan Indonesia untuk Amerika tersebut.

    Lebih lanjut Totok berharap melalui asesmen kelas dapat mendorong terjadinya learning behavior. Dengan demikian guru harus menghindari teaching to the test, tetapi menekankan behave to the test.

    Melalui perumpamaan yang sederhana, perubahan perilaku tersebut dianalogikan Totok dengan peningkatan kinerja di kantor. Jika prestasi dilihat dari jumlah jam kerja di kantor, maka selamanya seorang karyawan akan berada di kantor. Tetapi jika prestasi dinilai dengan kinerja, maka karyawan tersebut akan berkinerja. Jadi asesmen harus mendorong perilaku belajar bagi siswa dan perilaku mengajar bagi guru.

    "Mari kita jadikan asesmen sebagai pemicu perilaku belajar yang baik. Sebab ini lebih tepat daripada melakukan teaching to the test", ucapnya.

    2. Kompetensi Guru

    Kepala Balitbang menyadari betul bahwa kemampuan guru dalam pebelajaran dan penilaian masih memprihatinkan. Apanya yang dikuatkan dalam kemampuan guru? Bagaimana memperbaikinya?

    Menurut Totok, aspek yang perlu diperkuat pada kemampuan guru bisa dilihat dari hasil UN dan UASBN. Dalam hal ini Puspendik telah melakukan analisis hasil UN secara komprehensif. Materi pelatihan guru semestinya disesuaikan dengan hasil analisis tersebut. Tugas pelatihan ini ada pada Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan. Dengan demikian pelatihan guru akan berbeda dengan yang sudah ada.

    “Selama ini materi pelatihan untuk semua guru sama dan dilakukan secara massiv. Pada mada mendatang, pelatihan guru bersifat individual sesuai dengan hasil analisis kompetensi guru”, ucap Totok.

    Lebih lanjut Kepala Balitbang mengajak HEPI untuk bekerja sama dalam meningkatkan kompetensi guru melalui MGPM.

    “MGMP sebagai forum guru mata pelajaran perlu dilibatkan dalam program peningkatan kompetensi guru. MGMP diharapkan memiliki common interest dan common ground. Mereka menjadi penghubung dalam proses ilmiah, termasuk kajian soal dan pengembangan soal. Kita perlu menyusun strategi bagaimana HEPI bisa membantu meningkatkan kompetensi guru melalui MGMP”, ucap Totok.

    3. Full day school

    Dalam kesempatan ini Kepala Balitbang juga menyampaikan kebijakan tentang full day school yang sempat menjadi polemik di media sosial. Menurut Totok, full day school hanya satu cara untuk belajar efektif.

    “Satu makna penting dari full day school adalah kita ingin memperluas makna belajar tidak hanya di dalam ruang kelas dan sekolah, tetapi belajar di luar ruang kelas dan lingkungan sekolah. Ketika anak-anak di rumah, di masyarakat mereka tetap belajar”, ucap Totok seraya menambahkan selama ini masih ada perbedaan persepsi dan pemahaman terhadap makna full day school.

    Ketika anak-anak membantu orang tua bekerja di toko, itu merupakan proses belajar.Dimanapun anak-anak berada, mereka tetap belajar. Mereka belajar dimana sana dan kapan saja. Oleh karena itu perlu dilakukan asesmen terhadap pretasi mereka. Tantangannya adalah bagaimana melakukan penilaian terhaap pendidikan mereka yang ada di luar kelas dan di luar sekolah. Guru perlu mengetahui tingkat kemandirian, integritas, gotong royong, toleransi, dan aspek lainnya dari peserta didik.

    “Dalam konteks ini, sekali lagi, peran HEPI sangat diperlukan. Sehingga HEPI dapat memberikan kontribusi dalam menjawab tantangan terhadap penilaian pembelajaran di kelas dan luar kelas”, ucap Totok mengakhiri sambutannya.