Enhancing Quality Education Through Quality Evaluation

User login

Pesan Ketua

HEPI merupakan sebuah organisasi profesi yang bergerak di bidang pen­di­dik­an yang memiliki azas profesionalisme dan keilmuan dalam bidang pengukuran dan evaluasi pendidikan. Organisasi ini bersifat independen yang anggo­tanya terdiri dari him­pun­an para ahli, praktisi, pengamat, dan peminat evaluasi pendidikan.

Selengkapnya

    GURU-GURU SD/MI dan SDLB SIAP HASILKAN SOAL UN BERMUTU

    Untuk menghasilkan  soal ujian nasional yang bermutu diperlukan  penulis soal yang terampil, kompeten, dan ahli pada bidang mata pelajaran tertentu. Untuk mencapai tujuan tersebut, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bekerjasama dengan Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan pelatihan penulisan soal ujian nasional SD/MI/SDLB dari tanggal 16-22 Maret 2012 untuk tahap pertama dan dari tanggal 30 Maret sampai dengan 5 April 2012 untuk tahap kedua.

     

    Djemari Mardapi, Ketua Penyelenggara UN dalam penjelasannya di rapat pleno BSNP  di Jakarta (13/3/2012) mengatakan tujuan pelatihan ini adalah untuk menghasilkan soal UN yang bermutu. “Guru yang bermutu akan menghasilkan soal UN yang bermutu. Untuk memastikan para penulis soal memiliki keterampilan, maka dilakukan pelatihan penulisan soal”, papar Djemari Mardapi.

     

    Pada tahap pertama, pelatihan diselenggarakan di 17 provinsi, yaitu Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Papua, NTB, NTT, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Kalimantan Tengah, Jambi, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Bengkulu.  Sedangkan provinsi lainnya masuk pada tahap kedua. Di masing-masing provinsi ada seorang dari anggota BSNP dan dua orang dari Puspendik. Peran anggota BSNP adalah melakukan pemantauan, sedangkan peran dari Puspendik adalah memberikan pelatihan penulisan soal UN.

     

    Pelaksnaan penulisan soal UN SD/MI di Jawa Barat, sebagaimana dilaporkan oleh M. Aman Wirakartakusumah Ketua BSNP, berjalan dengan baik, guru-guru bersemangat menyiapkan soal yang bermutu dengan tim penelaah dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Namun, tambah M. Aman, ada keluhan dari guru-guru yang menyiapkan soal UN SDLB. Jumlah penulis soal untuk SDLB sedikit tetapi soal yang dibuat banyak, sehingga satu orang harus membuat soal untuk dua mata pelajaran.

     

    Di Sumatera Utara, Djemari Mardapi menemukan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian pada kegiatan tahap kedua yang berlangsung dari tanggal 30 Maret sampai 5 April 2012. “Ada ada gambar soal biologi yang kurang jelas, kunci jawaban matematika ada yang salah, kemampuan guru menulis soal bervariasi”, papar Djemari seraya menambahkan sebagian besar peserta guru perempuan.

     

    Edy Tri Baskoro yang bertugas ke Ternate melaporkan guru yang diundang memiliki pengalaman menulis soal.  Kisi-kisi matematika perlu ditinjau kembali karena banyak menghitung dan hitungannya campuran. Gambar yang dipakai bagus dan jelas, diambil dari buku sekolah elektronik.

     

    Peserta pelatihan ini adalah guru-guru SD/MI/SDLB. Di setiap kabupaten/kota dipilih satu guru untuk masing-masing mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam dengan komposisi dua orang guru SD dan satu orang guru MI. Sedangkan untuk SDLB, ada 18 orang guru sesuai dengan jenis ketunaan siswa.

     

    Zul Arsiah yang bertugas di Nusa Tenggara Barat mengatakan, pada  hari pertama pelatihan, peserta dikenalkan tentang teknik penyusunan kisi-kisi, teknik penulisan soal pilihan ganda, teknik telaah dan revisi soal, teknik perakitan soal, dan latihan penyusunan soal pilhan ganda.

     

    Soal yang sudah disusun, tambah Zul Arsiah, akan ditelaah dan dirakit oleh dosen dari perguruan tinggi dan guru senior yang berpengalaman dalam penulisan soal. Untuk setiap soal, ada dua dosen dan dua guru senior yang menelaah dan merakit soal yang disusun oleh guru-guru.  Selain itu, ada sepuluh orang tim pengetikan naskah soal.

     

    Untuk menjaga integritas peserta pelatihan, pada awal kegiatan mereka diminta untuk menandatangani surat pernyataan integritas. “Dengan surat pernyataan ini kita ingin memastikan bahwa soal yang disusun tetap terjaga obyektifitas dan kerahasiaannya”, ungkap Sekretaris Dinas Pendidikan NTB yang mewakili Kepala Dinas dalam acara pembukaan pelatihan. Tas dan handphone juga tidak diperbolehkan untuk dibawa ke ruang tempat pelatihan penulisan soal.

     

    Hal lain yang perlu diperhatikan oleh para peserta pelatihan penulisan soal adalah buku yang dijadikan acuan dalam penulisan soal, yaitu buku yang sudah dinyatakan lolos oleh BSNP sebagai buku teks pelajaran.

     

     Soal Pilihan Ganda

     

    Bentuk soal yang disusun adalah bentuk soal pilihan ganda. Mengapa harus pilihan ganda? Menurut Zul Arsiah, untuk ujian nasional yang sifatnya massal, maka pilihan ganda menjadi pilihan yang tepat. Aspek kognitif yang diukur juga banyak, mulai dari ingatan, pemahaman, sampai aplikasi. Juga karena sifatnya yang obyektif dan mencakup materi pelajaran yang luas. Kelebihan lainnya adalah penskoran mudah dilakukan dibandingkan dengan soal uraian. 

     

    Namun, tambah Zul Arsiah, soal pilihan ganda juga memiliki keterbatasan, yaitu memerlukan waktu yang lebih lama untuk menyiapkan soal. Bagian yang paling sulit adalah menentukan pilihan jawaban dengan pengecoh yang homogen  dan berfungsi. Soal pilihan ganda juga memungkinkan anak untuk   menebak jawaban (guessing).

     

    Zul Arsiah, mengingatkan peserta pelatihan untuk memperhatikan tiga hal dalam penulisan soal pilihan ganda. Pertama adalah materi yang akan diukur atau ditanyakan. Terkait dengan materi, soal harus sesuai dengan indikator yang ada dalam kisi-kisi soal UN. Soal yang tidak sesuai dengan indikator tidak bisa dipakai. Misalnya jika indikator menanyakan pengelompokan, tetapi soal menanyakan cirri-ciri binatang tertentu. Selanjutnya, pilihan jawaban harus homogen  dan logis. Selain itu, setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar.

     

    Kedua adalah segi konstruksi, yaitu bentuk atau bangunan soal itu sendiri. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Pokok soal tidak boleh memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar. Pokok soal juga tidak boleh mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda, misalnya pernyataan yang mengandung kata “tidak kecuali”. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama. Pilihan jawaban tidak boleh mengandung  pernyataan “semua pilihan jawaban di atas salah” atau “semua pilihan jawaban di atas benar”.

     

    Pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut. Gambar grafik, tabel, diagram dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi. Butir materi soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya.

     

    Ketiga adalah segi bahasa. Bahasa yang digunakan tidak tidak boleh  bersifat multi tafsir. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat. Pilihan jawaban jangan mengulang  kata atau frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian.

     

    Selama mengikuti pelatihan penulisan soal, menurut pengamatan penulis, peserta sangat antusias, aktif, partisipatif, dan responsif. “Soal itu terlalu ngambang dan tidak jelas”, ungkap seorang peserta ketika dipaparkan contoh soal yang pernyataannya tidak jelas.  Setelah mengikuti penjelasan dari nara sumber, mereka juga bisa memberi penilaian terhadap soal-soal yang dijadikan contoh. “Soal itu jelek” ungkap peserta mengomentari contoh soal yang dipaparkan nara sumber. 

     

    Hasil yang diharapkan dari pelatihan penulisan soal ini adalah tiga buah paket soal yang terdiri atas satu paket soal UN Utama, satu paket soal UN Ulangan, dan satu paket soal UN Cadangan.(BangS)