Enhancing Quality Education Through Quality Evaluation

User login

Pesan Ketua

HEPI merupakan sebuah organisasi profesi yang bergerak di bidang pen­di­dik­an yang memiliki azas profesionalisme dan keilmuan dalam bidang pengukuran dan evaluasi pendidikan. Organisasi ini bersifat independen yang anggo­tanya terdiri dari him­pun­an para ahli, praktisi, pengamat, dan peminat evaluasi pendidikan.

Selengkapnya

    BAHRUL HAYAT: KURIKULUM 2013 MEMILIKI KELEMAHAN IDEALISTIK DAN PRAKSIS

    Menurut Bahrul Hayat kurikulum harus menjawab harapan sebuah bangsa. Sebab masa depan sebuah bangsa, salah satunya, ditentukan oleh desain sebuah kurikulum.

     

    "Sekali kita mendesain kurikulum, kita mendesain masa depan bangsa. Masa depan bangsa ada di dalam kebijakan kurikulum", ungkap Bahrul Hayat dalam acara pengukuhan Pengurus HEPI Unit Koordinasi Daerah JABODETABEK di Universitas Negeri Jakarta, Sabtu (8/3/2014). 

     

    Kurikulum 2013, tambah Bahrul Hayat,  memiliki dua kelemahan, yaitu kelemahan pada aspek idealistik dan kelemahan pada aspek praksis. Pada aspek idealistik,  Kurikulum 2013 selalu memuat materi hari ini ke belakang. Tidak ada mata pelajaran hari ini ke depan. Oleh karena itu kita selalu tertinggal dalam menyusun kurikulum.

     

    “Cita-cita penggagas kurikulum ini ingin membangun masa depan bangsa tetapi mereka berpikirnya ke belakang", ungkapnya.

     

    Kelemaham pada aspek praksis, tambah Bahrul Hayat,  adalah cara melakukan  penilaian atau asesmen. Dengan pendekatan tematik integratif, seorang guru bisa mengajarkan banyak hal dalam satu waktu. Sebagai contoh guru mengajar matematika dan pada waktu yang sama mengajar bahasa. Akan tetapi pada saat melakukan penilaian,  guru harus menilai secara spesifik substansi yang dinilai.

     

    “Dalam mengajar, guru bisa melakulan hal-hal yang bersifat multidimensional, tapi pada saat menilai  guru tidak dapat melakukan hal-hal yang bersifat multidimensional, tetapi harus unidimensional sebab setiap dimensi harus diukur secara spesifik” ungkap Bahrul Hayat seraya menegaskan aspek praksis (penialain) ini  yang kurang diperhatikan dalam Kurikulum 2013.

     

    Jika seorang guru telah mengeluarkan banyak  banyak energi dalam pembelajaran, tetapi peserta didik tidak tahu apa yang dipelajari dan guru tidak tahu bagaimana menilai kompetensi anak didik, maka guru tersebut sebenarnya telah menyia-nyiakan anak didik.

     

    Dengan adanya dua kelemahan tersebut, Bahrul Hayat berpandangan bahwa dalam proses pembelajaran tidak ada istilah kurikulum final.

     

    "Tidak ada istilah  final dalam kurikulum. Kurikulum harus terus dikembangkan dan diperbaiki”,  ungkapnya seraya berharap mudah-mudahan pada saatnya nanti akan ada kesempatan untuk memperbaiki Kurikulum 2013.

     

    Lima Fungsi Pendidikan

    Selain berbicara masalah Kurikulum 2013, Bahrul Hayat juga menjelaskan fungsi pendidikan.  

     

    Menurut ahli psikometri yang pernah memimpin Pusat Penilaian Pendidikan  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut, pendidikan selalu diarahkan kemana sebuah bangsa akan dibangun dan dikembangkan.  Dalam konteks ini, ada lima fungsi pendidikan yang perlu diperhatikan oleh penentu kebijakan.

     

    Pertama, fungsi politik. Fungsi pendidikan yang paling mendasar adalah fungsi politik dengan tujuan supaya setiap warga taat kepada negara.

     

    Fungsi kedua adalah fungsi ekonomi. Pendidikan harus diarahkan untuk memberikan sumbangam dalam peningkatan kesejahteraan bangsa.

     

    Fungsi ketiga adalah  fungsi sosial. Pendidikan  merupakan alat untuk memobilisasi masyarakat. Mobilisasi masyarakat akan bergerak dengan cepat jika didukung oleh sistem pendidikan yang baik.

     

    Fungsi keempat adalah fungsi budaya. Pendidikan harus dapat  membantu peserta didik untuk mengenali keragaman budaya sesuai dengan kultur sebuah bangsa.

     

    Fungsi kelima adalah fungsi agama. Tujuan akhir pendidikan adalah untuk membantu siswa memiliki akhlak mulia sesuai dengan norma-norma agama. (BangS)